Minggu, 26 Oktober 2008

RUUP

Satu hal yang musti kita sadari, bahwa kekuatan pikir (rasio/logika)manusia memiliki keterbatasan. Pada hakekatnya kebenaran produk
akal/rasio/logika amat bersifat spekulatif. Karena itulah dalam filsafat ilmu kita dikenalkan kebenaran versi lain, yakni kebenaran sain dan kebenaran agama. Kebenaran sain berusaha memadukan antara kebenaran logika (filsafat) dengan kebenaran empirirs. Namun kebenaran sain masih saja mengandung elemahan, sebab disamping membutuhkan syarat ceteris paribus, juga bersifat tentatif. Kebenaran sain masih bergantung pada dimensi ruang dan waktu.

Hanya kebenaran agamalah yang bersifat mutlak. Dengan landasan iman dan disempurnakan oleh akal, maka kebenaran agama mampu menjamin terwujutnya kebenaran yang hakiki. Menjamin manusia mampu meraih kebahagiaan nan sejati.

Terkait dengan pro kontra RUUP,.... daku hanya sekadar mengingatkan, jangan terlalu yakin dengan argumen penolakan, seakan-akan tak ada celah kebenaran bagi argumen mereka yang menyetujui berlakunya RUUP. Sungguh teramat nisbi logika manusia. Sekalipun akal adalah kekuatan dan mahkota terindah bagi manusia, dan akal pula yang dapat membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Namun bijaklah mengelola akal. Agar akal tetap jernih, tajam dan objektif. Bukankah logika kita lahir dari segumpal otak yang besarnya tak melebihi buah kelapa?. Lalu mana mungkin mampu menemukan kebenaran nan hakiki. Benarkah RUUP mengancam NKRI? Benarkah RUUP tidak menghormati budaya daerah? Benarkah RUUP tidak memberi kebebasan berekspresi dan seni? Ah....akal memang secara spekulatif bisa berargumen untuk setuju atau tidak setuju. Namun sungguh indahlah kiranya, jika persoalan nilai dan moral bangsa juga menjadi pertimbangan untuk mengukuhkan argumen kita.

Bagi yang medukung RUUP, musti sabar. Lambat laun, insyaallah mereka yang menolak akan memahaminya, betapa UUP amat dibutuhkan untuk menjamin kehidupan yang lebih baik.

Mohon maaf, argemen daku juga tidak lepas dari resiko "salah" atau spekulatif. Karena kebenarannya hakiki hanya milik-NYA.

Salam
Agus W.

2 komentar:

xxx mengatakan...

kebenaran mutlak juga bisa ditempuh dengan pikiran bos walaupun itu atas dorongan hawa nafsu he he he.
selamat berkarya bos, aku tunggu artikel lain

ardita mutia setyani mengatakan...

apapun isinya yang jelas saya masih mengagumi gaya pemaparan dengan tidak lepas dari merendah diri dihadapan sang kholiq. itu yang aku suka. semoga pak agus sekeluarga selalu diberkahi Allah SWT.