Satu hal yang musti kita sadari, bahwa kekuatan pikir (rasio/logika)manusia memiliki keterbatasan. Pada hakekatnya kebenaran produk
akal/rasio/logika amat bersifat spekulatif. Karena itulah dalam filsafat ilmu kita dikenalkan kebenaran versi lain, yakni kebenaran sain dan kebenaran agama. Kebenaran sain berusaha memadukan antara kebenaran logika (filsafat) dengan kebenaran empirirs. Namun kebenaran sain masih saja mengandung elemahan, sebab disamping membutuhkan syarat ceteris paribus, juga bersifat tentatif. Kebenaran sain masih bergantung pada dimensi ruang dan waktu.
Hanya kebenaran agamalah yang bersifat mutlak. Dengan landasan iman dan disempurnakan oleh akal, maka kebenaran agama mampu menjamin terwujutnya kebenaran yang hakiki. Menjamin manusia mampu meraih kebahagiaan nan sejati.
Terkait dengan pro kontra RUUP,.... daku hanya sekadar mengingatkan, jangan terlalu yakin dengan argumen penolakan, seakan-akan tak ada celah kebenaran bagi argumen mereka yang menyetujui berlakunya RUUP. Sungguh teramat nisbi logika manusia. Sekalipun akal adalah kekuatan dan mahkota terindah bagi manusia, dan akal pula yang dapat membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Namun bijaklah mengelola akal. Agar akal tetap jernih, tajam dan objektif. Bukankah logika kita lahir dari segumpal otak yang besarnya tak melebihi buah kelapa?. Lalu mana mungkin mampu menemukan kebenaran nan hakiki. Benarkah RUUP mengancam NKRI? Benarkah RUUP tidak menghormati budaya daerah? Benarkah RUUP tidak memberi kebebasan berekspresi dan seni? Ah....akal memang secara spekulatif bisa berargumen untuk setuju atau tidak setuju. Namun sungguh indahlah kiranya, jika persoalan nilai dan moral bangsa juga menjadi pertimbangan untuk mengukuhkan argumen kita.
Bagi yang medukung RUUP, musti sabar. Lambat laun, insyaallah mereka yang menolak akan memahaminya, betapa UUP amat dibutuhkan untuk menjamin kehidupan yang lebih baik.
Mohon maaf, argemen daku juga tidak lepas dari resiko "salah" atau spekulatif. Karena kebenarannya hakiki hanya milik-NYA.
Salam
Agus W.
Minggu, 26 Oktober 2008
Selasa, 14 Oktober 2008
Perayaan Telah Usai
Perayaan idul fitri 1429 H telah uasai. Gemuruh mudik dan arus balik telah reda. Pesta kemenangan setelah sebulan puasa, menahan lapar dan haus juda telah seleasai. Sebulan penuh kita menempa diri menjadi pribadi yang kian taqwa telah kita jalani.
Kini tinggal menenempuh 11 bulan ke depan, sebelum kita bertemu lagi dengan ramadhan 1430H. Lebih berkualitas pribadi, sikap dan perilaku hidup kita, itulah harapannya. Semoga....
Kini tinggal menenempuh 11 bulan ke depan, sebelum kita bertemu lagi dengan ramadhan 1430H. Lebih berkualitas pribadi, sikap dan perilaku hidup kita, itulah harapannya. Semoga....
Kerja Keras - Kerja Cerdas
Dahulu kita sering mendengar nasehat, mari kita kerja keras. Nasehat ini tidak salah, karena dibalik nasehat ini, tersirat harapan, agar kita bekerja dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah dan penuh kepercayaan untuk mencapai tujuan.
Namun kini, nasehat tersebut rasanya perlu dilengkapi. Kita tidak hanya harus bekerja dengan keras, tapi yang jauh lebih penting adalah kita harus bekerja dengan cerdas.
Kerja cerdas mengandung makna, bahwa kita tidak sekadar mengandalkan fisik (okol) belaka untuk dengan sekuat tenaga mencapai tujuan, dilandasi sikap sungguh-sungguh, pantang menyerah dan penuh kepercayaan, Namun lebih penting dari itu, kita juga harus menggunakan pikiran (akal) untuk membimbing, mengarahkan dan mengendalikan langkah kita.
Dalam kontek manajerial, kerja cerdas maknanya kita harus mampu mengelola pekerjaan dengan berlandaskan fungsi manajemen yang lazim telah kita kenal. Kita harus merencanakan pekerjaan dengan baik, mengorganisasikan seluruh potensi yang ada dengan baik, melaksanakan pekerjaan dengan profesional, memonitor pekerjaaan yang telah kita laksanakan, hingga mengevalusi hasil pekerjaan agar dapat dilakukan perbaikan jika belum sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Dengan kerja cedas, seluruh sumber daya yang kita miliki dapat dialokasikan dengan efisien untuk mencapai tujuan secara efektif. Sebaliknya jika pekerjaan kita lakukan hanya dengan kerja keras tanpa didukung dengan kerja cerdas, maka sekalipun tujuan dapat tercapai, bisa jadi terlalu boros sumber daya yang kita korbankan. Bahkan sangat mungkin tujuan yang kita harapkan tidak dapat tercapai sesuai sesuai dengan yang telah direncanakan.
Mulai saat ini, mari kita kerja keras, sekaligus kerja cerdas.
Namun kini, nasehat tersebut rasanya perlu dilengkapi. Kita tidak hanya harus bekerja dengan keras, tapi yang jauh lebih penting adalah kita harus bekerja dengan cerdas.
Kerja cerdas mengandung makna, bahwa kita tidak sekadar mengandalkan fisik (okol) belaka untuk dengan sekuat tenaga mencapai tujuan, dilandasi sikap sungguh-sungguh, pantang menyerah dan penuh kepercayaan, Namun lebih penting dari itu, kita juga harus menggunakan pikiran (akal) untuk membimbing, mengarahkan dan mengendalikan langkah kita.
Dalam kontek manajerial, kerja cerdas maknanya kita harus mampu mengelola pekerjaan dengan berlandaskan fungsi manajemen yang lazim telah kita kenal. Kita harus merencanakan pekerjaan dengan baik, mengorganisasikan seluruh potensi yang ada dengan baik, melaksanakan pekerjaan dengan profesional, memonitor pekerjaaan yang telah kita laksanakan, hingga mengevalusi hasil pekerjaan agar dapat dilakukan perbaikan jika belum sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Dengan kerja cedas, seluruh sumber daya yang kita miliki dapat dialokasikan dengan efisien untuk mencapai tujuan secara efektif. Sebaliknya jika pekerjaan kita lakukan hanya dengan kerja keras tanpa didukung dengan kerja cerdas, maka sekalipun tujuan dapat tercapai, bisa jadi terlalu boros sumber daya yang kita korbankan. Bahkan sangat mungkin tujuan yang kita harapkan tidak dapat tercapai sesuai sesuai dengan yang telah direncanakan.
Mulai saat ini, mari kita kerja keras, sekaligus kerja cerdas.
Langganan:
Komentar (Atom)
